Minggu, 10 Agustus 2014

Ini, yang Terakhir

Untuk, yang akan (segera) saya lupakan,
Jika boleh jujur, sudah sejak lama saya ingin sekali menulis surat ini. Surat yang akan menjadi surat terakhir yang saya tulis untuk kamu. Sejak dulu, tak pernah ada waktu, tak pernah kesampaian karena masa lalu begitu kuat menarik saya dalam rengkuhannya. Lagi dan lagi. Tak pernah lelah. Bahkan bertubi-tubi. Saya sangat lega, karena pada akhirnya kesempatan ini datang juga.
Kamu harus tahu, saya tidak punya maksud apapun dengan surat ini. Tidak meminta kamu mengingat apapun, atau kembali ke masa apapun, bahkan saya juga tidak berniat membuka luka lama yang ada di hati kita masing-masing. Saya hanya berniat menulisnya untuk yang terakhir kalinya untuk kamu. Karena, jika tidak seperti ini, saya akan terus membahasmu dalam tulisan-tulisan saya. Pembahasan yang tak akan ada habisnya. Jadi, maafkan jika mungkin surat ini akan lebih panjang dari surat-surat sebelumnya yang saya tulis untuk kamu, yang sekarang sudah menjadi abu sebelum kamu sempat membaca semuanya.
Sebelumnya, saya ingin sedikit basa-basi.
Pertama-tama, saya ingin bertanya, apa kabar kamu? Sebenarnya, tanpa kamu menjawabpun saya sudah tahu kalau kamu sehat dan akan selalu sehat.
Seperti apa model rambut kamu sekarang? Aku yakin kamu tak akan memakai model yang sama seperti saat itu kan? Ya, potongan pendek dengan poni. Membuat semua orang geli, namun tetap saja tak ada alasan untuk saya untuk tak menyukai.
Masih suka mendengarkan Paramore seperti dulu? Sudah seberapa banyak koleksi lagu mereka yang kamu punya?
Kapan ya terakhir kali kita bertemu, walaupun hanya berpapasan saja? Saya tak ingat tanggalnya. Yang saya ingat hanya, waktu itu hari Sabtu. Dari jauh, saya bisa melihatmu di lorong sekolah. Sayapun menggumamkan namamu. Waktu itu kamu memakai batik hijau, dan sedang sibuk memakai jaket biru. saya sangat ingin menyapa, tapi kamu sepertinya sangat sibuk walau tengah berjalan. Sayapun mengurungkan niat. Padahal, saya sangat ingin mendengar suaramu langsung, untuk yang terakhir kali, mungkin. Dan beberapa kata itupun keluar dari mulutmu, walaupun bukan dengan saya kamu berbicara, tapi itu membuat saya sangat lega. Suaramu masih seperti dulu. Logatmu juga. Ah, membuat saya melamun sepanjang perjalanan pulang. Pikiran saya kembali, katika kita masih bersekolah di sekolah yang sama.
Masa SMA. Adalah masa tentang saya dan kamu. Ya, hanya saya dan kamu.
Karena saat saya bersama kamu, saya tahu apa itu jatuh hati.
Karena saat saya bersama kamu, saya tahu bagaimana menjaga hati.
Karena hanya saat saya bersama kamu, saya tahu bagaimana rasanya patah hati.
Masa SMA. Adalah masa yang tak akan pernah saya lupakan, harusnya sampai tulisan ini selesai saya tulis.
Ingatkah kamu bagaimana pertemuan pertama kita? Tak apa jika kamu sudah melupakannya. Saya yang akan mengingatnya untuk kamu. Di lahan luas belakang sekolah bersama ratusan manusia lainnya. Menggenggam tanganmu untuk yang pertama kalinya, adalah ingatan yang tak akan pernah saya lupakan, ya ini saya anggap pengecualian. Jadi izinkan saya. Karena ingatan ini sangatlah berharga untuk saya.
Aula sekolah, adalah salah satu tempat dari sekian banyak sudut sekolah yang menyimpan banyak kenangan untuk saya. Dari menjadi tempat di mana pertama kali saya melihat kamu, tempat mengobrol pertama dengan kamu, melakukan olahraga kesukaan kita bersama, atau lebih tapatnya, kamu yang berolahraga dan saya menontonnya, menjadi tempat di mana tawa dan juga tangis saya karena kamu. Oh, maaf. Bukan karena kamu. Akhir-akhir ini saya telah memikirkannya lagi, dan jawaban yang saya temukan yaitu karena kebodohan saya sendiri. Tak ada jawaban lain selain itu. Setelah bertahun-tahun, saya baru menyadari kebodohan saya. Sial.
Kalau saja sejak dulu saya menyadarinya, saya tak akan pernah semenyesal ini ketika kehilangan kamu. Ah, sudah lupakan. Anggap saja paragraf ini tak pernah ada.
Sebenarnya, susah sekali untuk melupakan kamu. Semakin saya berusaha, semakin gagal pula semua usaha saya. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tak pernah ada kemajuan, apalagi hasil. Sudah  saya coba berbagai cara. Memblokir akunmu, malah membuat saya mati penasaran, sampai saya memutuskan untuk bersama orang lain, malah saya semakin sadar bahwa sebenarnya saya sedang membohongi diri saya sendiri.
Saya ingin membuat pengakuan. Mungkin sebenarnya kamu sendiri sudah tahu. Tapi akan tetap saya tulis di sini. Sebenarnya, saya yang memberikan 12 digit nomor handphone saya. Kebetulan ketika kamu mengirim pesan untuk adik saya, saya yang membukanya. Senang sekali ketika kamu berniat menghubungi saya lagi, sampai saya berlarian dari kamar kos saya di kamar paling belakang ke ruang paling depan, hanya untuk berteriak dan memeluk seseorang saking senangnya. Padahal saya tahu, sebenarnya kamu tak punya maksud apa-apa, hanya sekedar formalitas ketika akan ujian, meminta maaf pada mantan, setelah itu lupakan, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Saya minta maaf, karena sempat membuat kamu jengkel, yaa saya sengaja melakukannya. Entahlah.
Saya benarkan? Setelah, bahkan sebelum ujian selesaipun kamu telah melupakan semuanya, buktinya saat saya, ehm sebenarnya yang mengirimimu pesan adalah teman kos saya, menanyakan kedatanganmu ke Jogja, kamu bertanya berkali-kali itu siapa. Dan hari itu, tiba-tiba kamu muncul lagi. Menanyakan suatu tempat di Jogja. Membuat saya menjerit-jerit tertahan sepanjang jalan. Sebenarnya saya tak mengetahui tempat itu sama sekali. Saya tanya sana-sini, survei langsung ke tempat itu sore-sore, supaya saya bisa menjelaskan arah-arahnya ke kamu. Tapi, mungkin buat kamu itu semua tak berarti bukan? Maaf, kalau saya malah membahas hal-hal tak penting.
Seberubah apapun hubungan kita sekarang, setidaknya kita pernah ada di dalam hati satu sama lain. Tapi tidak untuk saya, kamu tidak hanya pernah, tapi selalu. Yah seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, setidaknya sampai berakhirnya surat ini. Entahlah. Saya juga tidak mengerti, mengapa saya bisa memiliki rasa sedalam ini untuk kamu. Haruskah saya meminta maaf untuk hal itu? Jika iya, maafkanlah saya.
Terima kasih, karena kamu pernah ada. Merelakan begitu banyak waktumu untuk saya.
Terima kasih, karena kamu pernah menyayangi saya, dan saya sayangi.
Terima kasih, untuk semua kenangan yang pernah kita lewati bersama.
Terima kasih, untuk semua rasa yang pernah saya rasakan. Jika tidak bersama kamu, mungkin saya tidak akan pernah tertawa karena terlalu bahagia dan tidak akan pernah menangis karena terlalu sakit. Terima kasih.
Dan, maaf. Maaf semua hal yang pernah membuat kamu tertawa, tersenyum, kecewa, marah, atau bahkan karena kamu pernah mengenal saya. Saya harap kamu bisa memaafkan saya sekarang, seperti saya yang telah memaafkan kamu, yah walaupun bagi saya kamu tak bersalah sama sekali.
Gapai cita dan cintamu setinggi langit. Tetaplah sebijaksana nama yang orang tuamu berikan. Tetaplah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Saya hanya bisa mendoakan. Saya harap kamu juga mau selalu mendoakan saya.
Sekarang, saya merasa sangat lega, salah satunya karena Tuhan telah menjawab semua pertanyaan yang tak pernah saya bisa jawab sendiri. Jarak kita kini adalah satu jawaban dariNya. Saya tahu, saya paham, saya juga yakin, Tuhan selalu punya rencana. Sekarang saya bisa melepaskan kamu selepas-lepasnya. Saya tidak akan pernah mengganggu kamu lagi. itu janji saya.
Walaupun kita telah saling melupa satu sama lain, tapi saya harap ketika suatu hari kita bertemu lagi, masih ada sapa dan senyum, seperti sahabat lama yang kembali dipertemukan.
Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar