Untuk, yang akan
(segera) saya lupakan,
Jika boleh
jujur, sudah sejak lama saya ingin sekali menulis surat ini. Surat yang akan
menjadi surat terakhir yang saya tulis untuk kamu. Sejak dulu, tak pernah ada
waktu, tak pernah kesampaian karena masa lalu begitu kuat menarik saya dalam
rengkuhannya. Lagi dan lagi. Tak pernah lelah. Bahkan bertubi-tubi. Saya sangat
lega, karena pada akhirnya kesempatan ini datang juga.
Sebelumnya, saya
ingin sedikit basa-basi.
Pertama-tama,
saya ingin bertanya, apa kabar kamu? Sebenarnya, tanpa kamu menjawabpun saya
sudah tahu kalau kamu sehat dan akan selalu sehat.
Seperti apa
model rambut kamu sekarang? Aku yakin kamu tak akan memakai model yang sama
seperti saat itu kan? Ya, potongan pendek dengan poni. Membuat semua orang
geli, namun tetap saja tak ada alasan untuk saya untuk tak menyukai.
Masih suka mendengarkan
Paramore seperti dulu? Sudah seberapa banyak koleksi lagu mereka yang kamu
punya?
Kapan ya
terakhir kali kita bertemu, walaupun hanya berpapasan saja? Saya tak ingat
tanggalnya. Yang saya ingat hanya, waktu itu hari Sabtu. Dari jauh, saya bisa
melihatmu di lorong sekolah. Sayapun menggumamkan namamu. Waktu itu kamu
memakai batik hijau, dan sedang sibuk memakai jaket biru. saya sangat ingin
menyapa, tapi kamu sepertinya sangat sibuk walau tengah berjalan. Sayapun
mengurungkan niat. Padahal, saya sangat ingin mendengar suaramu langsung, untuk
yang terakhir kali, mungkin. Dan beberapa kata itupun keluar dari mulutmu,
walaupun bukan dengan saya kamu berbicara, tapi itu membuat saya sangat lega.
Suaramu masih seperti dulu. Logatmu juga. Ah, membuat saya melamun sepanjang
perjalanan pulang. Pikiran saya kembali, katika kita masih bersekolah di
sekolah yang sama.
Masa SMA. Adalah
masa tentang saya dan kamu. Ya, hanya saya dan kamu.
Karena saat saya
bersama kamu, saya tahu apa itu jatuh hati.
Karena saat saya
bersama kamu, saya tahu bagaimana menjaga hati.
Karena hanya
saat saya bersama kamu, saya tahu bagaimana rasanya patah hati.
Masa SMA. Adalah
masa yang tak akan pernah saya lupakan, harusnya sampai tulisan ini selesai
saya tulis.
Ingatkah kamu
bagaimana pertemuan pertama kita? Tak apa jika kamu sudah melupakannya. Saya
yang akan mengingatnya untuk kamu. Di lahan luas belakang sekolah bersama
ratusan manusia lainnya. Menggenggam tanganmu untuk yang pertama kalinya,
adalah ingatan yang tak akan pernah saya lupakan, ya ini saya anggap
pengecualian. Jadi izinkan saya. Karena ingatan ini sangatlah berharga untuk
saya.
Aula sekolah,
adalah salah satu tempat dari sekian banyak sudut sekolah yang menyimpan banyak
kenangan untuk saya. Dari menjadi tempat di mana pertama kali saya melihat
kamu, tempat mengobrol pertama dengan kamu, melakukan olahraga kesukaan kita
bersama, atau lebih tapatnya, kamu yang berolahraga dan saya menontonnya,
menjadi tempat di mana tawa dan juga tangis saya karena kamu. Oh, maaf. Bukan
karena kamu. Akhir-akhir ini saya telah memikirkannya lagi, dan jawaban yang
saya temukan yaitu karena kebodohan saya sendiri. Tak ada jawaban lain selain
itu. Setelah bertahun-tahun, saya baru menyadari kebodohan saya. Sial.
Kalau saja sejak
dulu saya menyadarinya, saya tak akan pernah semenyesal ini ketika kehilangan
kamu. Ah, sudah lupakan. Anggap saja paragraf ini tak pernah ada.
Sebenarnya,
susah sekali untuk melupakan kamu. Semakin saya berusaha, semakin gagal pula
semua usaha saya. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tak
pernah ada kemajuan, apalagi hasil. Sudah
saya coba berbagai cara. Memblokir akunmu, malah membuat saya mati
penasaran, sampai saya memutuskan untuk bersama orang lain, malah saya semakin
sadar bahwa sebenarnya saya sedang membohongi diri saya sendiri.
Saya ingin
membuat pengakuan. Mungkin sebenarnya kamu sendiri sudah tahu. Tapi akan tetap
saya tulis di sini. Sebenarnya, saya yang memberikan 12 digit nomor handphone
saya. Kebetulan ketika kamu mengirim pesan untuk adik saya, saya yang
membukanya. Senang sekali ketika kamu berniat menghubungi saya lagi, sampai
saya berlarian dari kamar kos saya di kamar paling belakang ke ruang paling
depan, hanya untuk berteriak dan memeluk seseorang saking senangnya. Padahal
saya tahu, sebenarnya kamu tak punya maksud apa-apa, hanya sekedar formalitas
ketika akan ujian, meminta maaf pada mantan, setelah itu lupakan, seolah-olah
tak pernah terjadi apa-apa. Saya minta maaf, karena sempat membuat kamu
jengkel, yaa saya sengaja melakukannya. Entahlah.
Saya benarkan?
Setelah, bahkan sebelum ujian selesaipun kamu telah melupakan semuanya,
buktinya saat saya, ehm sebenarnya yang mengirimimu pesan adalah teman kos
saya, menanyakan kedatanganmu ke Jogja, kamu bertanya berkali-kali itu siapa.
Dan hari itu, tiba-tiba kamu muncul lagi. Menanyakan suatu tempat di Jogja.
Membuat saya menjerit-jerit tertahan sepanjang jalan. Sebenarnya saya tak
mengetahui tempat itu sama sekali. Saya tanya sana-sini, survei langsung ke
tempat itu sore-sore, supaya saya bisa menjelaskan arah-arahnya ke kamu. Tapi,
mungkin buat kamu itu semua tak berarti bukan? Maaf, kalau saya malah membahas
hal-hal tak penting.
Seberubah apapun
hubungan kita sekarang, setidaknya kita pernah ada di dalam hati satu sama
lain. Tapi tidak untuk saya, kamu tidak hanya pernah, tapi selalu. Yah seperti
yang pernah saya katakan sebelumnya, setidaknya sampai berakhirnya surat ini.
Entahlah. Saya juga tidak mengerti, mengapa saya bisa memiliki rasa sedalam ini
untuk kamu. Haruskah saya meminta maaf untuk hal itu? Jika iya, maafkanlah
saya.
Terima kasih,
karena kamu pernah ada. Merelakan begitu banyak waktumu untuk saya.
Terima kasih,
karena kamu pernah menyayangi saya, dan saya sayangi.
Terima kasih,
untuk semua kenangan yang pernah kita lewati bersama.
Terima kasih,
untuk semua rasa yang pernah saya rasakan. Jika tidak bersama kamu, mungkin
saya tidak akan pernah tertawa karena terlalu bahagia dan tidak akan pernah
menangis karena terlalu sakit. Terima kasih.
Dan, maaf. Maaf
semua hal yang pernah membuat kamu tertawa, tersenyum, kecewa, marah, atau
bahkan karena kamu pernah mengenal saya. Saya harap kamu bisa memaafkan saya
sekarang, seperti saya yang telah memaafkan kamu, yah walaupun bagi saya kamu
tak bersalah sama sekali.
Gapai cita dan
cintamu setinggi langit. Tetaplah sebijaksana nama yang orang tuamu berikan. Tetaplah
menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Saya hanya bisa mendoakan. Saya harap
kamu juga mau selalu mendoakan saya.
Sekarang, saya
merasa sangat lega, salah satunya karena Tuhan telah menjawab semua pertanyaan
yang tak pernah saya bisa jawab sendiri. Jarak kita kini adalah satu jawaban
dariNya. Saya tahu, saya paham, saya juga yakin, Tuhan selalu punya rencana.
Sekarang saya bisa melepaskan kamu selepas-lepasnya. Saya tidak akan pernah
mengganggu kamu lagi. itu janji saya.
Walaupun kita
telah saling melupa satu sama lain, tapi saya harap ketika suatu hari kita
bertemu lagi, masih ada sapa dan senyum, seperti sahabat lama yang kembali
dipertemukan.
Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar