Hei, kamu. Yang dulu tidak pernah tidak hadir di hatiku. Yang selalu sibuk menata hatiku saat disini terlihat berantakan karna
ulahku sendiri, dan tentu saja dengan sabar menata hatimu sendiri yang aku
obrak-abrik dengan sifat kekanak-kanakkanku.
Masih bolehkah aku menyapa? Sudah sekian lama aku dan kamu saling meninggalkan hati, karena lelah selalu saja mencoba singgah hingga berubah jadi bosan. Aku tahu, sebenarnya kamu pergi karna apa? Mungkin bukan hanya lelah, namun lebih dari lelah, ketika menghadapi keegoanku. Iya, aku memang egois, selalu saja menyalahkanmu, tanpa peduli siapa yang sebenarnya salah. Tapi tetap saja, kamu yang selalu mengalah dan memaksamu yang harus mengucap kata maaf. Entah karna memang kamu menyayangiku, atau karna kamu terlalu segan kepadaku. Aku minta maaf.
Akupun tahu, maaf saja sebenarnya tidak cukup untuk kamu
memaafkanku, bukan? Terlalu sering aku mendengar kata maaf darimu, aku bosan.
Dan sekarang, aku lebih bosan lagi, ketika telingaku mendengar kata yang sama
dari dalam sini. Aku bosan. Maafkan aku.
Aku tak tahu, sebenarnya aku seperti apa dimata dan hatimu.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, mungkin kamu hanya sekedar segan atau
malah kasihan? Mungkin kata terakhir itu yang paling tepat. Sejak dulu, kamu
terlalu mengasihaniku, memanjakanku, menuruti apapun yang aku inginkan,
sehingga otakku menyimpanmu di sini, dengan banyaknya memori tentangmu,
dan pada akhirnya akupun ketergantungan atas perlakuanmu. Maafkan aku.
Maaf karna aku terus-terus saja meminta maaf. Aku tahu, aku
bisa membayangkan kamu akan langsung muak ketika membaca ini, seperti halnya
aku saat ini.
Kudengar kamu telah mencintai gadis lain. Pasti dia cantik
dan pintar. Tidak seperti aku, yang hanya biasa-biasa saja dalam segala hal,
tapi selalu berlagak penguasa. Aku yakin, dia tidak memperlakukanmu seperti
perlakuanku kepadamu. Tapi, jika boleh jujur, aku tak suka kamu dan dia menjadi
kalian. Itu terlalu menyakitiku, lebih dari ketika kamu pergi.
Mungkin aku masih menyukaimu. Tolong, jangan biarkan aku
mengucapkan kata maaf lagi, karna sekarang aku benar-benar ingin
mengucapkannya.
“aku masih
memilikinya, rasa itu. Rasa seperti dulu saat aku dan kamu saling berjanji
untuk selalu bersama. Maafkan aku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar