Rabu, 26 Februari 2014

Tentang Hati yang Tersakiti

Tak banyak yang tahu, betapa terlukanya sesuatu di dalam sini waktu itu. Waktu, ketika kekecewaan  yang begitu dalam untuk pertama kali aku rasakan. Waktu ketika rasa malu seperti menggerogoti isi dadaku. Waktu ketika orang yang begitu aku kagumi waktu itu, menjadi begitu aku benci seketika itu juga.  Waktu yang tak ingin ku ingat lagi, tapi selalu hadir di sudut lamunku.
Selesainya acara memuakkan yang seharusnya menjadi hari bersejarah bagiku, aku menyendiri, tertunduk, terisak sepuasku tanpa seorangpun yang peduli apa yang aku rasakan ketika itu. Pedih. Sesak. Sakit. Hanya itu yang aku rasakan. Bahkan ketika isakkanku semakin dalam, dan ketika aku mencoba berhenti terisakpun, rasa di dalam sini tak berkurang sedikitpun.

Kejadian itu terus berputar-putar di depan mataku. Aku mencoba menjerit tanpa suara untuk mengusirnya pergi, tapi ia tak mau pergi. Ia terus ada di sana, seakan-akan menyuruhku untuk terus mengingatnya. Apa sebenarnya maumu? Tak cukupkah rasa sakit dari orang yang menciptakanmu, wahai kenangan buruk? Tak cukupkah? Bisakah kau pergi, karna aku ingin kau pergi, sekalian bawa serta orang itu bersamamu. Buat aku lupa. Buat aku tak mengingatmu dan dia.

“Menangislah, jika itu membuat sesak di dalam dadamu sirna. Tapi jika dia lebih menyiksamu, pikirkan sekali lagi. Pantaskah dia kamu tangisi? Manusia, yang bahkan tak pernah menghargai apa yang kamu rasakan. Manusia, yang tak pernah menghargai keberadaanmu. Masih pantaskah dia kamu tangisi? Apa kamu tak menghargai air mata beningmu yang kamu tumpahkan sia-sia untuk manusia yang tak layak disebut manusia?”

Aku menoleh, sejak kapan dia disini?

“Kamu memang bukan aku yang seperti batu karang yang tetap kokoh sesering apapun ombak menghempaskannya. Kamu hanyalah pasir putih yang rapuh. Tapi tahukah? Serapuh apapun pasir putih itu, dia akan kembali ke pantai yang tepat bersama gulungan ombak yang menghempaskannya berkali-kali. Tetaplah kuat ketika ombak menghempaskanmu.”


Lalu, yang aku tau selanjutnya hanya gelap dan kehangatan yang menyelimuti hatiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar