Hei,
Sudah berapa usiamu
sekarang, hah?
Kalau aku sudah
sembilan belas tahun Januari kemarin, berarti kamu..
Delapan belas,
kurang ngg, sebentar..
Ngg..
Ya, delapan belas
kurang dua bulan..
Kusarankan jangan
pernah mau untuk jadi tua.
Tapi jadilah
laki-laki dewasa.
Tapi, hei..
Bukan dengan cara
seperti itu jika kau ingin menunjukkan
kedewasaanmu.
Menyelipkan sebatang
lintingan tembakau di antara ke dua jari dan memindahkannya di antara bibirmu..
Atau mencoba setetes
minuman memabukkan.
Astaghfirullah..
Kesehatanmu!
Masa depanmu!
Tanggung jawabmu
kepada Tuhanmu!
Pernahkah kau
fikirkan, betapa sedih dan khawatirnya orang-orang terdekatmu..
Aku,
Ayahmu yang sekarang
telah berada di sisi Tuhanmu.
Dan ibumu,
Yang setiap malam
bersujud dan tak tanggung-tanggung air matanya menganak sungai hanya meminta
kepada Tuhan agar aku, dan terutama kamu selalu berada di jalan Tuhan
Apa pernah kamu
memikirkannya?
Satu atau dua kali
mungkin untuk remaja sepertimu masih bisa dimaklumi..
Mencari jati diri
kadang memang menjadi kedok paling biasa digunakan.
Tapi harusnya kamu
sadar, sayang..
Semua yang kau
lakukan hanya sia-sia,
Tak ada gunanya,
Percayalah padaku,
Walaupun umur kita
hanya berselisih 17 bulan..
Tetap saja aku lebih
dewasa dan lebih banyak tau dibandingkan kamu..
Berjanjilah,
Bukan demi aku,
Tapi demi dua orang
yang menyayangimu kini, dan selamanya..
Kau akan membuat
kami bangga, walau hanya menjadi satu titik di dunia, namun begitu berharga..
Dariku, kakak yang
menyayangimu, tentu saja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar