Beginilah aku akan mengenangmu saat
bersamaku. Kasih sayangmu, candamu, senyummu, tawamu, tangismu, bahkan
amarahmu, ayah.
“Flya!” panggil ayah, dengan suara sangat keras dari
depan pintu kamarku.
“Iya, yah.” aku yang sedang tiduran sambil mainan HP, langsung terduduk. Takut. Ayah pasti sudah menemukan kertas hasil ulangan matematikaku, yang dapat nilai 7 yang kubuang di tempat sampah kemarin. Ayah pasti akan memarahiku.
“Sudah berapa kali ayah bilang, kamu sudah besar, sudah kelas 2 SMA! Tugas
kamu apa? Jawab ayah!”
“Belajar, yah.” Jawabku, sambil menundukkan kepala, takut.
“Nah itu bisa jawab. Ayo ikut ayah ke depan!”
“Ta, tapi yah.”
“Tidak adatapi-tapian. Cepat ikut ayah!”
ayah menggeretku ke depan, ke ruang tamu. Bunda sudah ada di sana. “Duduk kamu.”
“Iya yah.”Jawabku, lesu. Aku duduk di kursi ruang tamu itu di samping bunda, ayah di
depanku. Bunda langsung membelai rambutku.
“Tadi apa jawaban kamu waktu ayah
tanya?”
“Belajar, yah.” Jawabku, masih lesu.
“Itu tau, belajar. Tapi apa yang malah kamu lakukan
setiap hari?”
Tamat riwayatku. Aku hanya bisa tertunduk, diam.
Tidak berani menjawab pertanyaan ayah.
“Ini apa?” tuhkan. Ayah memperlihatkan kertas kotor dan kusut, yang sudah kuremas dan kubuang ke tempat sampah dengan tulisan angka 7
besar berwarna merah yang sudah agak luntur di pojok kanan atasnya .“Jawab
ayah, Flya! Jangan diam saja!”
“Itu hasil ulangan matik Flya, yah.”Jawabku, sangat lirih. Aku hampir menangis.
“Jadi, kamu mengaku? Kenapa kamu buang? Takut ayah tau? Iya?” tanya ayah agak keras.
“Ayah!” kata bunda.
Aku hanya mengangguk
lesu. Air mataku seperti sudah tidak bisa dibendung lagi. Tapi aku berusaha menahannya. Bunda hanya diam sambil terus membelai rambutku.
“Kalau takut, kenapa cuma dapat nilai segini?”
“Flyanggak belajar, yah.” Satu tetes air mataku jatuh. Lalu kuhapus. Aku sudah hafal, jika ayah sudah marah mengenai nilai-nilaiku, pasti aku akan dihukum.
“Kenapa nggak belajar? Tadi kamu bilang tugas kamu
belajar?”
“Flya mainan HP terus, yah.” Satu, dan sekarang dua,
tiga tetes. Aku menangis. Aku tau, pasti ponselku akan disita
sebagai hukuman.“Flya minta maaf, yah.”
“Sayang, sudah berkali-kali kan ayah bilang sama kamu.
Tugas kamu belajar, sayang. HP itu cuma pengganggu, perusak nilai-nilai kamu.
Jujur, ayah sangat kecewa sama kamu. Kamu sudah tau kan, kamu di hukum. Untuk
sementara HP kamu ayah sita. Mana HP kamu?”
Dengan sangat berat hati, kukeluarkan barang kecil itu dari saku baju
tidurku. Dengan air mata,aku menyerahkannya ke ayah. Ayah menerimanya. Lalu, dibukanya casing ponsel itu, dan dikeluarkannya baterai dan kartunya. Air mataku semankin deras, tapi tak ada suara. aku tau konsekuensinya. Aku pasrah.
“Tidak usah HP-HPan kalau hanya menbuat nilai kamu turun. Kalau teman kamu ada perlu, suruh menghubungi
lewat ayah atau bunda.”Aku hanya mengangguk. “Ayah nggak tau sampai kapan HP ini ayah sita. Mungkin sampai ulangan akhir semester.
Tapi itu kalau nilai kamu membaik lagi. Dan kalau nilai kamu
masih seperti ini,” ayah menunjuk-nukjuk hasil ulanganku, “mungkin tidak akan kembali, sampai kapanpun.” Katanya lalu pergi ke
kamar membawa bongkaran ponselku. Lalu keluar lagi sambil memegangi dada
kirinya, menuju dapur.
“Sudah, sayang. Nggak usah nangis. Hapus air
matanya. Ayah itu sayang sama
kamu. Kamu itu anak kebanggaan ayah, sayang. Dia keras begitu juga demi
kebaikan kamu. Kamu sudah tau kan? Mulai sekarang kamu lebih nurut ya, sama
ayah, sama bunda. Jangan bikin ayah marah lagi. Yaudah sekarang kamu ke kamar.
Istirahat. Belajarnya besok pagi aja, besok bunda bangunin.” Kata Bunda.
“Iya, Bund.” Jawabku. Aku tetap berusaha untuk tersenyum. Bunda mengecup
keningku, lalu ia pergi ke kamarnya.
Di kamar, aku tidak bisa tidur. Aku hanya berguling ke kanan, lalu telentang, lalu berguling lagi ke kiri.
Seperti tidak ada posisi tidur yang enak. Lalu kuambil majalah sekolahku, kubaca satu demi satu artikel, cerita, puisi, dan
lain sebagainya. Saat jam dinding menunjukkan angka 10, aku baru benar-benar bisa tidur.
***
Di sekolah.
Aku masuk ke kelas, lalu
duduk di bangkuku dengan sangat lesu. Masih saja teringat kejadian tadi malam dan tadi pagi juga.
Saat di salami, ayah sama sekali tidak memandang wajahku. Aahh, kenapa ayah masih ngambek sih, kayak anak kecil saja.
“Pagi, Flya.”
Seseorang menepuk bahuku, aku kaget. “Pagi-pagi udah ngelamun aja, Neng. Entar kesambet loh.” Ini Mega,
sahabat sekaligus teman satu bangkuku.
“Hhe.” aku hanya tersenyum sedikit lalu memandang ke depan
lagi.
“Mukanya bete banget si? Kenapa kenapa?”Mega emang
paling hafal suasana hatiku. “Soal si Andy?” Tanya Mega.
Aku menggeleng.
“Trus?”
“Ayah marah sama aku, Meg. Dia nemuin nilai ulangan matik aku.”
“Ya ampun. Kasian banget si kamu. Ih padahal nilai 7 tuh udah bagus banget
lho, Ya. aku aja cuma dapet 5, hehehe.”
“Ya, emang. Tapi menurut ayah, kalo ga dapet 9 atau 10 itu jelek. Ah, bisa
gila lama-lama aku.” Kataku sambil mengacak-acak rambutku.
“Hmm. Udah sabar aja ya, Ya. Ayah kamu kaya gitu juga karna dia
sayang sama kamu, dia perhatian, biar kamu bisa ngewujudin cita-cita kamu jadi
dokter. Udah ah, jangan cemberut gitu. Jelek tauk. Senyum dong senyum.” Kata
Mega, sambil membentuk mukanya jadi jelek banget.
“Hahaha. Kamu tuh jelek. Makasih ya, Meg.”
“He.em sama-sama. Eh, iya. Tadi aku ketemu Andy di depan. Dia nanyain kamu. Katanya kamu di SMS dia, ngga bales. Trus di telfon, nggak aktif. Kamu marah sama dia?”
“Hmm, bukannya marah. Tapi ya itu, HP aku disita sama ayah. Nggak tau sampai kapan.”
“Owh. Ya ampun. Kirain marah doang. Ternyata sampai nyita HP juga?”
“He.em. Nanti kalo kamu ketemu Andy bilangin ya. Maaf juga.”
“Kenapa nggk bilang sendiri?”
“Males keluar. Kamu juga, kalau ada apa-apa, SMS ke nomernya bunda aja. Ok.”
“Ok, deh.” Jawab Mega sambil mengacungkan jempolnya.
Kelas sudah mulai penuh. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, anak-anak yang
rajin sudah siap menerima pelajaran hari ini. Yang lain pada nyebar, ada yang
ke kelas sebelah, main basket, ada juga yang ke kantin. Hari ini aku masuk kategori rajin, ditemani Mega. Padahal biasanya, kami berdua ke kantin.
***
Sore ini, aku sedang mengerjakan PR di ruang keluarga.
Tiba-tiba ayah duduk di sebelahku.
“Nah, gitu dong. Anak ayah harus rajin belajarnya. Lagi ngerjain apa?”
“Eh, ayah. Ini, PR Fisika, yah.”
“Masih banyak nggak?”
“Enggak kok, yah. Dikit lagi juga selesai. Emang kenapa, yah?” tanyaku, tanpa menoleh, masih konsentrasi dengan
soal-soal fisika di depanku.
“Kita beli es krim yuk?”
Mendengar es krim, aku langsung menghentikan tanganku mencoret-coret kertas, dan langsung menoleh ke ayah. “Es krim, yah?” ayah
mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, yah sekarang aja.”
“Sekarang? Emang udah selesai PRnya?”
“Hehe, belum si yah.”
“Selesaiin dulu dong!”
“Siap, yah!” kataku sambil hormat sama ayah. Ayah tertawa dan mengacak-acak rambutku.
Setelah kuselesaikan PRku, kami langsung pergi beli es krim. Ahh
senangnya, akhirnya ayah memaafkanku.
***
Hari Kamis, aku nekad menonton pertandingan basket di sekolah. Ya, aku menonton Andy bertanding. Walaupun nekad,
sebisa mungkin aku harus pamit dulu sama bunda. Ya, tentu saja aku meminjam
ponsel Mega untuk mengirim pesan pamitku ke bunda.
Bun, Flya pulangnya agak sore ya.
Mau nonton basket di sekolah.
Flya :)
Dan aku senang sekali karna bunda mengizinkanku. aku bisa nonton Andy
dengan tenang. Hehe.
***
Aahh, nggak sia-sia aku bela-belain nonton sampai pulang hampir maghrib.
Tim Andy menang. Dan Andy banyak masukin bola tadi. Sampai serak tenggorokanku
gara-gara teriak-teriak. Pasti nanti Andy bakal ngomel kayak ayah, kalau aku
ngeluh sakit. Ini itu blablabla. Huh.
Sebawel-bawelnya Andy, seenggaknya dia juga baik dan bertanggungjawab, mau
nganterin aku pulang sampai depan pintu gerbang rumahku.
“Terima kasih, Andy. Udah mengantarku pulang.” kataku sambil tersenyum
semanis mungkin.
“Iya, Flya. Sama-sama.” jawanya sambil tersenyum juga tentunya. “Emm, aku
langsung aja ya. Udah sore nih. Bye.”
“Daagh. Hati-hati ya.”
“Iya.” Andy segera menghilang ke arah barat bersama motor bebeknya. Dan aku
segera masuk ke dalam lewat pintu garasi, dan langsung masuk dapur.
Di dapur, ada ayah yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan. Tidak
memakai baju atasan, dan sepertinya sedang mengelap badannya. Tiba-tiba beliau
menoleh. Mungkin karena mendengar langkah kakiku.
“Baru pulang, nak? Darimana? Kok sore? Nggak pamit sama ayah?” tanyanya
memberondong.
“Flya baru nonton basket di sekolah, ayah. Tadi Flya udah pamit bunda kok. Suer. Emang bunda nggak bilang?” kataku
sambil mengambil air dari lemari es.
“Owh. Belum. Bunda lagi ngambil jahitan baju.”
“Ayah kenapa?” tanyaku sambil mendekatinya.
“Nggak tau nih. Tumben keringat ayah keluar banyak banget, dingin, nggak
kayak biasanya.” kupegang punggungnya. Iya, berkeringat dan dingin.
“Iya, yah. Ayah masuk angin ini. Ke dokter aja yah.”
“Ah, Cuma masuk angin biasa. Nanti juga sembuh kalau udah dikerokin bunda.”
“Tapi, yah.”
“Ayah nggak apa kok.
Mending Flya masakin air buat mandi ayah yaa..”
“Yaudah. Sebentar ya,
Yah.”
Aku segera memasakkan air untuk ayah. Biar ayah bisa segera mandi dan
istirahat. Kutunggu sampai masak, dan setelah masak, sekalian aku siapkan
keperluan mandi ayah. setelah semua siap, aku temui ayah lagi, yang masih
mengelap-lap badannya.
“Yah, airnya udah siap. Ayah langsung mandi gih.”
“Iya. Makasih sayang.”
“Sama-sama, Yah. Flya ke kamar dulu ya.”
“Iya. Flya, kamu harus jadi anak yang baik, turuti semua yang bunda katakan
ya nak.” aku langsung menoleh. apa maksud kata-kata ayah barusan? Karena
bingung, aku hanya mengangguk. Dan segera berlari ke kamar.
***
Akhirnya, setelah dibujuk bunda, ayah mau dibawa ke dokter. Sepertinya agak
parah sakit ayah kali ini. Semoga ayah tidak kenapa-kenapa. Amin.
Tugasku untuk besok lumayan banyak. Besok harus presentasi makalah sejarah.
Kadang aku seperti ini, menggunakan sistem kebut semalam. Tapi cara seperti ini
benar-benar melelahkan.
Aku segera menyalakan komputerku. Membuka file yang kemarin sudah mulai
kucicil dan meneruskannya. Huruf-demi huruf, kata demi kata, dan slide demi
slide sudah mulai terkumpul. Saat ditengah pekerjaanku, kudengar suara motor. Ayah
dan bunda sudah pulang. Saat mereka sudah masuk rumah dan melewati kamarku,
“Ayah nggak kenapa-kenapa kan?” tanyaku.
“Enggak, ayah hanya kecapean. dari kemarin lembur terus.” jawab bunda. Syukurlah.
“Calon dokter harus rajin belajarnya ya. Biar besok, kamu yang meriksa
ayah.” kata ayah.
“Siap yah.” jawabku.
***
Hampir jam 11, tugasku baru benar-benar selesai. Ahh, rasanya benar-benar
pegal. Aku haus, dan air di kamarku habis. Jadi aku keluar untuk mengisi botol
minumku. Lampu rumahku sudah padam semua. Di ruang tamu, kulihat ayah duduk
menyender di sofa di tengah kegelapan. Mungkin ayah kepanasan, dan ingin
mencari udara di luar kamar. Jadi, kudiamkan saja.
Saat aku kembali, ayah juga masih disana, tapi aku sudah benar-benar
ngantuk jadi aku segera masuk ke kamar dan tidur.
Baru sepuluh menitan aku memejamkan mata, sayup-sayup aku dengar ada suara
yang memanggil-manggil ayah dengan suara agak keras dan menangis. Itu suara
bunda dari ruang tamu. Aku segera meloncat dari tempat tidurku. Berlari ke
ruang tamu yang sekarang sudah terang. Disana ada bunda yang sedang menggoncang-goncang
tubuh ayah yang sepertinya sudah lemas. Aku berlari mendekatinya, bunda segera
menyingkir dan tetap menangis. Aku pegang pergelangan tangan ayah, denyutnya
masih ada tapi sudah sangat lemah sekali.
“Ayah, istighfar yah. Astaghfirullahal’adzim. Ayah, ini Flya yah. Ayah
bangun yah.” Kataku di telinganya . Tapi ayah tetap diam sampai denyutnya
hampir benar-benar hilang. “Ayah, ikutin Flya yah. Asyhaduallaillahaillallah,
waasyhaduannamuhammadarrosulullah.” Ayah sudah tidak bisa menjawabku lagi. Bunda bertambah histeris saat aku menutup mata ayah. Ayah sudah pergi,
untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.
***
7 tahun kemudian..
Waktu begitu cepat berlalu
Seiring langkah dalam cerita
Terbayang wajahmu dalam hatiku
Kau adalah kisah yang terindah
Tajamnya matamu Tenangkan hati
Luka
hidupmu kau bawa sembunyi
Hangatnya sentuhmu yang penuh cinta
Kau adalah bintang dalam hatiku
Dalam lelahmu masih kau tersenyum
Dalam duka kau belai aku
dalam sempitmu ajarkanku tegar
Allah slalu bersamamu
Oh Allah slalu bersamau
Ayah ayah terima kasih
Kau beri aku cinta
Ayah ayah terima kasih
Ajarkan aku hidup
Lagu itu mengalun dari sebuah kamar bercat putih di sebuah rumah sakit.
Pintunya terbuka saat lagu itu berhenti berputar. Keluarlah seorang dokter
cantik berjilbab dari ruangan itu. Flya Kinanti tertulis di badge namanya.
Sepertinya dia akan pergi keluar dengan mobilnya.
***
Di pemakaman, di nisan yang bertuliskan Hari Murti bin Abdullah. Perempuan
berjas putih itu menengadah, mendoakan seseorang di bawah sana.
“Ayah, sekarang cita-cita Flya untuk menjadi seorang dokter sudah tercapai.
Terima kasih karena sudah selalu mengarahkan Flya. Terima kasih karena selalu
mendoakan Flya. Semoga ayah selalu tenang disana. Semoga ayah mendapatkan tempat
yang layak di sana. Doa Flya selalu untuk ayah. Semoga nanti kita bisa bertemu
lagi. Flya berharap, nanti saat kita bertemu lagi, ayah masih menganggap Flya
adalah anak ayah. Flya berharap ayah selalu mau untuk tetap menjadi ayah Flya.
Terima kasih ayah. Flya sayang ayah.”
Mawar merah dan putih bertabur di atas rumput makam itu. Wangi sewangi
kasih sayang yang selalu ayah berikan ke anak tersayangnya.
==THE END==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar