Jika boleh jujur, aku tak
menyukai keduanya, stasiun dan kereta yang berjalan. Itu semua membuatku bosan
dan lelah. Lelah mengantre untuk mendapatkan tiket, bosan menunggu datangnya
kereta, lelah jika sampai tak dapat tempat duduk, bosan menunggu sampai di
tempat tujuan, kampung halaman.
Jika bukan karna rindu yang
selalu menggebu di akhir pekan, dan ingin segera memeluk perempuan yang selalu
aku rindukan, aku akan memilih lari daripada desak-desakan di dalam kereta
seperti itu. Tapi, hanya kereta yang mampu membawaku cepat tiba di rumah.
Satu lagi yang tak aku sukai dari
kereta yang berjalan khususnya, ketika ada seorang gadis kecil bergelayut manja
di lengan ayahnya. Atau mereka yang menggandeng tangan ayahnya dengan erat di
depan mataku ketika akan turun di stasiun perberhentiannya. Selalu saja, dengan
tiba-tiba mataku memanas hingga butiran-butiran bening itu jatuh, membuatku
merindukannya, pria yang aku cintai dengan dalam untuk pertama kalinya, pria
yang selalu saja menuruti apa-apa yang aku inginkan, pria yang selalu menghapus
aliran kecil di kedua pipiku, pria yang selalu menjadi apa-apa yang pertama
untukku.
Selain rindu pada dia yang selalu
menungguku di istana kecil ia tinggali, lelaki di sampingku adalah alasan lain,
aku selalu mengantre tepat pukul 3 untuk mendapatkan tiket pulang. Aku tak
tahu, sejak kapan lelaki ini menjadi begitu penting untukku, begitu aku
rindukan ketika dia jauh dariku, begitu pandai membuatku tersenyum, bahkan
tertawa ketika dia menertawakan hal yang bahkan tidak lucu sama sekali bagiku.
Dia adalah lelaki pengganti pria yang pergi meninggalkanku beberapa tahun lalu.
Dia adalah lelaki kedua yang menghapus aliran bening di kedua pipiku. Dia
adalah lelaki yang menemaniku menikmati perjalanan di dalam kereta yang
berjalan. Dia adalah kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar