Selasa, 06 Mei 2014

Stasiun dan Kereta yang Berjalan

Jika boleh jujur, aku tak menyukai keduanya, stasiun dan kereta yang berjalan. Itu semua membuatku bosan dan lelah. Lelah mengantre untuk mendapatkan tiket, bosan menunggu datangnya kereta, lelah jika sampai tak dapat tempat duduk, bosan menunggu sampai di tempat tujuan, kampung halaman.


Jika bukan karna rindu yang selalu menggebu di akhir pekan, dan ingin segera memeluk perempuan yang selalu aku rindukan, aku akan memilih lari daripada desak-desakan di dalam kereta seperti itu. Tapi, hanya kereta yang mampu membawaku cepat tiba di rumah.

Satu lagi yang tak aku sukai dari kereta yang berjalan khususnya, ketika ada seorang gadis kecil bergelayut manja di lengan ayahnya. Atau mereka yang menggandeng tangan ayahnya dengan erat di depan mataku ketika akan turun di stasiun perberhentiannya. Selalu saja, dengan tiba-tiba mataku memanas hingga butiran-butiran bening itu jatuh, membuatku merindukannya, pria yang aku cintai dengan dalam untuk pertama kalinya, pria yang selalu saja menuruti apa-apa yang aku inginkan, pria yang selalu menghapus aliran kecil di kedua pipiku, pria yang selalu menjadi apa-apa yang pertama untukku.


Selain rindu pada dia yang selalu menungguku di istana kecil ia tinggali, lelaki di sampingku adalah alasan lain, aku selalu mengantre tepat pukul 3 untuk mendapatkan tiket pulang. Aku tak tahu, sejak kapan lelaki ini menjadi begitu penting untukku, begitu aku rindukan ketika dia jauh dariku, begitu pandai membuatku tersenyum, bahkan tertawa ketika dia menertawakan hal yang bahkan tidak lucu sama sekali bagiku. Dia adalah lelaki pengganti pria yang pergi meninggalkanku beberapa tahun lalu. Dia adalah lelaki kedua yang menghapus aliran bening di kedua pipiku. Dia adalah lelaki yang menemaniku menikmati perjalanan di dalam kereta yang berjalan. Dia adalah kamu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar