Kau melihatnya juga? Masih
seperti waktu itu, indah bukan? Bulan di atas sana.
Jarak antara kita memang jauh,
ribuan mil. Hati kita juga. Entah sejak kapan, dan siapa yang memulai. tapi
sejauh apapun kita, bumi yang kita pijak, dan langit yang masih menaungi kita
masih sama, seperti dulu bukan?
Ya, aku merindukanmu. Apa kau
merasakan ini juga? Mungkin tidak, atau “mungkin” harus aku hapus dan kuganti
dengan “pasti”? Ya, aku merasakannya seperti itu. Pasti kamu sudah tidak pernah
merindukanku lagi! Rindumu sudah untuknya, seseorang yang aku benci telah
menggantikan posisiku. Membuatku semakin muak dan membencinya. Aku masih
bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa kau menjadi begitu bodoh, sayang? Aku
belum bisa menjawab pertanyaan itu sampai saat ini. Aah, menyebalkan sekali.
Membuatku membencimu juga dengan pelan-pelan, dan mungkin akan semakin besar
suatu hari nanti.
Sudahlah sayang. Berbahagialah kau dengannya. Aku muak! Aku tau sekarang semua sudah berubah dan tidak akan pernah ada tombol undo. Teruslah seperti itu. Buat aku untuk selalu membencimu. Buat aku untuk tidak menoleh ke arah belakang, ke arahmu. Buat langkahku ringan untuk meninggalkanmu. Buat langkahku ringan meninggalkan semua itu. Buat aku enggan untuk kembali, kembali ke tempat dimana dulu kita sama-sama memijak tanah dan memandang bulan bersama di sana. Karna aku lebih memilih seperti ini, memandang bulan indah itu di tempatku kini, sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar