Selasa, 01 April 2014

Di Ujung Perempatan

Hari ini, kakiku melangkah membawaku ke suatu tempat, tempat yang malah menjebakku pada kenangan. Di ujung perempatan ini, memoriku mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya tak pernah kuingat lagi sekarang, bahkan seharusnya tidak pernah menyimpannya di sudut hati, namun terlanjur dalam ia berada di sana.


Kata, gerak, tangis, ataupun amarah yang meluap-luap ketika sebuah cerita diungkapkan kala itu, kembali terlukis jelas di depan mataku, seolah semuanya terulang kembali. Aku benci ini. Aku benci aku yang seperti ini.

“Aku tak benar-benar mencintainya. Hanya karena budi yang meminta untuk dibalas. Sebenarnya hanya kamu.” Kata-kata itu masih jelas terngiang dan menggaung perkasa di telingaku, membuat mataku memanas, dan semakin memanas ketika aku sadar bahwa semua itu hanya kepalsuan, semua itu hanya agar membuatku jatuh. Dan tahukah? Semua itu berhasil, aku benar-benar terjatuh, bahkan aku butuh tangan lain untuk bisa kembali bangkit. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika tangan itu tak pernah ada? Dengan tertatih aku mencoba bangkit sendiri. Adakah yang peduli? Ya, jelas saja tidak.

Apalagi seseorang itu, entahlah. Mungkin dia masih tetap berkutat dengan balas budinya sekarang. Tapi aku? Aku akan menjadi makhluk Tuhan yang paling tegar, walau kadang menjadi lemah ketika berada  di ujung perempatan ini. Tapi aku janji, hanya di sini. Hanya di sini saja buliran kenangan membasahi bumi. Hanya di ujung perempatan ini saja aku mengingatnya.

Tapi, aku percaya akan satu hal. Walaupun tak ada tangan yang membantuku beranjak, tapi akan ada tangan yang melakukan hal yang lebih berharga, menggemgam tanganku menuju bahagia, bersama.


R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar