Hari ini, kakiku melangkah
membawaku ke suatu tempat, tempat yang malah menjebakku pada kenangan. Di ujung
perempatan ini, memoriku mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya tak
pernah kuingat lagi sekarang, bahkan seharusnya tidak pernah menyimpannya di
sudut hati, namun terlanjur dalam ia berada di sana.
Kata, gerak, tangis, ataupun
amarah yang meluap-luap ketika sebuah cerita diungkapkan kala itu, kembali
terlukis jelas di depan mataku, seolah semuanya terulang kembali. Aku benci
ini. Aku benci aku yang seperti ini.
“Aku tak benar-benar
mencintainya. Hanya karena budi yang meminta untuk dibalas. Sebenarnya hanya
kamu.” Kata-kata itu masih jelas terngiang dan menggaung perkasa di telingaku,
membuat mataku memanas, dan semakin memanas ketika aku sadar bahwa semua itu
hanya kepalsuan, semua itu hanya agar membuatku jatuh. Dan tahukah? Semua itu
berhasil, aku benar-benar terjatuh, bahkan aku butuh tangan lain untuk bisa
kembali bangkit. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika tangan itu tak pernah ada?
Dengan tertatih aku mencoba bangkit sendiri. Adakah yang peduli? Ya, jelas saja
tidak.
Apalagi seseorang itu, entahlah.
Mungkin dia masih tetap berkutat dengan balas budinya sekarang. Tapi aku? Aku
akan menjadi makhluk Tuhan yang paling tegar, walau kadang menjadi lemah ketika
berada di ujung perempatan ini. Tapi aku
janji, hanya di sini. Hanya di sini saja buliran kenangan membasahi bumi. Hanya
di ujung perempatan ini saja aku mengingatnya.
Tapi, aku percaya akan satu hal.
Walaupun tak ada tangan yang membantuku beranjak, tapi akan ada tangan yang
melakukan hal yang lebih berharga, menggemgam tanganku menuju bahagia, bersama.
R

Tidak ada komentar:
Posting Komentar